Indonesia tercatat sebagai mayoritas Muslim. Baik muslim aliran keras maupun yang lembut. Aliran keras ini adalah muslim-muslim fanatic yang menginginkan pemimpin pemerintahan atau pemimpin dalam suatu instansi masyarakat Indonesia haruslah muslim juga. Sebut saja contoh sang raja dangdut sekaligus seorang haji, Rhoma Irama. Beliau ternyata akan mencalonkan diri sebagai calon presiden di tahun 2014 mendatang. Mengapa Agama dapat dijadikan alat politik? Bang Rhoma Irama ternyata berkampanye atau berpidato tentang pencalonan dirinya di sebuah Masjid. Alasannya adalah ia ingin umat islam agar memilih pemimpin yang seagama dan sepemikiran seperti dirinya, ia sangat menentang pemimpin non-muslim, dan ternyata dalam pidatonya di masjid itu, terucap juga kata yang cenderung rasialis. Kita Negara Indonesia memang mayoritas penduduknya beragama muslim, tapi apakah itu berarti kita adalah Negara jiran seperti arab? Jawabannya adalah tidak! Kita Negara Indonesia adalah Negara...
Bahkan penjajahpun masih memiliki hati, masih bisa merasa bersalah, masih bisa membedakan mana salah dan benar . Tapi apa daya, kebanyakan hanyalah soldier/anak buah....mereka harus mematuhi apa yang negara mereka putuskan. But veryone can get redemption if we give them second chance, never judge. -Salam, Politisi Misterius
Kenapa agama harus dipisahkan dari politik? Sekedar opini, tapi kira2 inilah yang saya dapat dari berbagai hal di berita internet sekarang..terutama soal PILKADA jakarta 2017 kemarin, banyak sekali berita dan video beredar yang menunjukan adanya gerakan yang 'bigot' memakai ras dan agama. Dan, sepertinya dulu saya pernah membahas hal yang serupa masa Jokowi-Ahok Konon , karena agama itu suci, dan politik itu kotor. Jadi agama jangan masuk ke politik, karena akan ikutan kotor. Sebenarnya ini jawaban hiburan aja untuk kaum agamawan, supaya mereka berhenti ngerecokin dunia politik. Jawaban yang sebenarnya adalah, karena agama itu tidak rasional dan tidak siap didebat. Ada pun produk politik seperti undang-undang idealnya harus memiliki basis rasional, siap didebat secara publik, dan rela dihapus atau direvisi ketika terbukti tidak rasional atau tidak relevan lagi dengan perkembangan zaman. Tidak boleh ada politikus yang menjawab debat lawannya dengan ancaman neraka atau azab Tu...
Komentar
Posting Komentar